Selamat malam Yogyakarta!


Masih ingat waktu itu Onyeng sedang KKN di daerah Bruno, kawasan Purworejo.

Misinya adalah mengantarkan si onyeng kembali ke Purworejo sebelum jam 1700 -padahal waktu itu jam 1200 waktu Jogja.

Onyeng sebenarnya home sick tapi beli benang jadi alasan. Ya coba situ bayangkan lah ya, cuma buat beberapa glundung benang woll harus ambil di Jogja. Apa ya kota Purworejo ndak punya stok woll yang cuma di butuhkan beberapa itu :/

Maka jeung meg diutus untuk emban tugas ke barat. Langit Jogja sudah lantang teriak hujan. Tapi kami tak peduli, seluruh persiapan disiapkan -masukkan box kappa 42.

Perjalanan berangkat sungguhlah menyenangkan, langit mendung bikin adem. Juga ngobrol ngetan – ngulon sama Onyeng. Jalan ke Barat memang jarang, dan inilah rute terjauh jeung meg bersama saya. Performanya beneran keluar! Karakter overbore yang galak di puteran atas benar-benar saya gali mendalam. Paling nyaman di plintir di kitiran 5500 rpm @ perseneling 5. Cukup turun gigi sekali saja untuk dahului bis-bis koplak yang ngetem sak geleme.

Sebelum muncak ke Bruno disempatkan dulu isi bakso -yang ternyata enak bangau, juga nyetok bekal beberapa potong roti bikininan sari kapir (you know ha?)

Pun begitu ketika saya menuju lokasi KKN. Ndak adalah yang namanya selip kopling. Padahal jeung meg full muatan dan beberapa kali harus pakai engine break level ngawur karena hindari lubang yang tertutup genangan air.

Seperempat perjalanan terakhir hujan sangat lebat mengguyur, oke Nyeng kutukan sial sudah dimulai:

ONYENG GA BAWA MANTEL a.k.a. MANTROL a.k.a. JAS HUJAN a.k.a. RAIN SUIT

Sebagai Kakanda ku tanggalkan jas hujan. Hari mulai petang, kami hampir sampai.

Bruno, 1600.

Kami disambut bagai Serdadu yang pulang dengan rampasan perang. Sari kapir habis disantap. Mereka -teman se unit KKN Onyeng- kelaparan. Kasihan.

Kunjungan kerja ibu Lubna-

Mantabh! Perjalanan tadi ndak bikin capek berarti. Walau kelahiran 2009 suspensi masih bekerja sebagaimana mestinya B)

Selesai ramah tamah kutukan sial Onyeng melanjutkan tugasnya, kali ini:

LISTRIK POSKO MATI TOTAL, DAN INI PAS MAGHRIB.

Setelah sembahyang saya bantu temen-temen posko untuk membangkitkan kembali listrik yang sudah mati.

Oke kami berhasil mengembalikan listrik seperti sediakala.

Jarum jam menunjuk ini jam 1930.

Meskipun di bujuk untuk menginap, saya harus pulang. Lub kecil dan ibunya menunggu.

Saya kenakan jas hujan full pvc bikinan negara aseng dengan label ASV itu. Hujan sudah lebat ketika jejak ban saya tinggal di pekarangan posko Onyeng.

Kalau diejawantah, perjalanan pulang dibagi tiga etape:

  1. Bruno ke bawah, full turunan dan tikungan dengan kondisi aspal kuyup karena limpahan dari tebing kanan – kiri;
  2. Bruno bawah ke rest area, jalanan seimbang naik turun dengan kondisi aspal mulus dan mudah di tikung;
  3. Rest area ke Jogja, jalanan tambal sulam di beberapa titik karena ada peningkatan kualitas jalan. Lima sampai enam alat berat dan tumpukan material di kiri-kanan.

Perjalanan pulang saya benar-benar sendiri. Wajar saja waktu itu hujan, malam dan saya kembali ke kota -yang notabene warga setempat sudah pulang ke rumah masing-masing.

Sepanjang etape dua dan tiga saya posisikan lampu pada high beam dan selalu bunyikan klakson ketika berbelok, SELALU!

Diperjalanan cuma empat kali ketemu teman searah, itupun jarak sekilo – dua kilo mereka pasang sein kiri.

Selebihnya sendiri lagi.

Cek point pertama mampir rest area sekalian sembahyang dan ngopi-ngopi. Lalu di lanjut apapun resikonya.

Sepanjang jalan cuma ditemani deru mesin 160cc, klakson dual tone, dan al fatihah.

Gelap, dingin, dan sunyi.

Alhamdulillah sampai jalan protokol tanpa kurang. Tetep ga mbayang kalau ada gangguan mesin atau gangguan jin di tengah gunung tadi.

Pulang diiringi hujan sangat lebat sepanjang jalan, sampai Jogja disambut mie rebus bikinan ibunya Lub. Si Lub tidur nyenyak 😀

Paginya cek-cek. Faktanya box kappa ndak sanggup melawan ganas badai semalam.

Tapi saya senang

Jarang touring, sekalinya touring lha kok mantabh!

Iklan

7 thoughts on “Touring malam sendirian!

  1. wih al fatihah. syukurlah dadi nyebut. 😂

    nnggg. mbak mega memang yahud. sayangnya tangki bocor itu menyebalkan.

    last touring sebelum kwek kwek kwek?

Ngomong dong, ngomong!!!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s